Ini Kebiasaan Masyarakat Betawi Jelang Puasa
Bulan suci Ramadhan sudah di depan mata. Biasanya, sehari menjelang Ramadhan atau puasa, orang Betawi punya kebiasaan yang sepertinya saat ini telah terlupakan, yaitu Mandi Merang.
Tempo dulu, kebiasaan ini sering dilakukan saat sore hari menjelang puasa esok, terutama para ibu dan para gadis-gadis. Mereka berkeramas menggunakan merang. Yakni, kulit gabah yang dibakar kemudian dicampur dengan buah rek-rek. Buah berbusa yang umumnya digunakan untuk menyepuh perhiasan, emas dan perak, agar mengkilat kembali.
Di samping merang, untuk keperluan keramas ada kalanya digunakan lidah buaya. Sedangkan untuk memperindah dan mencegah kerontokan rambut digunakan minyak kemiri. Namun, hal itu semua sudah tergantikan dengan shampo yang sering diiklankan di televisi.
Sebetulnya, mandi dan keramas tersebut mempunyai motif tersendiri yakni pembersihan lahir dan batin dalam menyambut bulan suci Ramadhan.
Ada lagi tradisi yang hingga kini masih terus dilakukan, yakni tradisi ziarah kubur atau nyekar menjelang puasa. Namun biasanya, hal itu tempo dulu sering dilakukan khusus kaum pria. Sebab, Wanita dilarang karena khawatir ada di antara mereka yang mendapat haid.
Makna Ziarah kubur dilakukan sebagai penghormatan dan mendoakan arawah orang tua dan keramat. Banyak yang membaca surat Yasin atau membaca tahlil, sambil membersihkan makam kerabat.
Yang kagak boleh dilupakan menjelang Ramadhan juga adalah mengantar penganan atau bingkisan (disebut juga Nyorog) kepada anggota keluarga yang lebih tua, seperti bapak/ibu, mertua (calon mertua), paman, kakek/nenek atau kerabat dekat. Bukan saja anak dan cucu, calon mantu juga ngantar penganan pada calon mertoku.
Penganan atawa bingkisan itu umumnya roti, sirup, kopi, susu, gula, dan korma. Calon mantu yang datang membawa barang antaran ke rumah calon mertua, mendapat nilai lebih. Ia dapat pujian sebagai calon menantu yang baik dan bikin senang hati mertua.
Sebaliknya, calon mantu yang tidak bawa anteran apalagi tidak nongol jelang Ramadhan, urusannya bisa runyam. Calon mantu semacam ini tidak ada ia punya rasa hormat pada mertua. Bisa-bisa lamarannya bakal ditolak. Karena itu, sekalipun kantong kempes atau lagi bokek, ngantar pada mertua kudu dilakukan. (dari berbagai sumber)
Bulan suci Ramadhan sudah di depan mata. Biasanya, sehari menjelang Ramadhan atau puasa, orang Betawi punya kebiasaan yang sepertinya saat ini telah terlupakan, yaitu Mandi Merang.
Tempo dulu, kebiasaan ini sering dilakukan saat sore hari menjelang puasa esok, terutama para ibu dan para gadis-gadis. Mereka berkeramas menggunakan merang. Yakni, kulit gabah yang dibakar kemudian dicampur dengan buah rek-rek. Buah berbusa yang umumnya digunakan untuk menyepuh perhiasan, emas dan perak, agar mengkilat kembali.
Di samping merang, untuk keperluan keramas ada kalanya digunakan lidah buaya. Sedangkan untuk memperindah dan mencegah kerontokan rambut digunakan minyak kemiri. Namun, hal itu semua sudah tergantikan dengan shampo yang sering diiklankan di televisi.
Sebetulnya, mandi dan keramas tersebut mempunyai motif tersendiri yakni pembersihan lahir dan batin dalam menyambut bulan suci Ramadhan.
Ada lagi tradisi yang hingga kini masih terus dilakukan, yakni tradisi ziarah kubur atau nyekar menjelang puasa. Namun biasanya, hal itu tempo dulu sering dilakukan khusus kaum pria. Sebab, Wanita dilarang karena khawatir ada di antara mereka yang mendapat haid.
Makna Ziarah kubur dilakukan sebagai penghormatan dan mendoakan arawah orang tua dan keramat. Banyak yang membaca surat Yasin atau membaca tahlil, sambil membersihkan makam kerabat.
Yang kagak boleh dilupakan menjelang Ramadhan juga adalah mengantar penganan atau bingkisan (disebut juga Nyorog) kepada anggota keluarga yang lebih tua, seperti bapak/ibu, mertua (calon mertua), paman, kakek/nenek atau kerabat dekat. Bukan saja anak dan cucu, calon mantu juga ngantar penganan pada calon mertoku.
Penganan atawa bingkisan itu umumnya roti, sirup, kopi, susu, gula, dan korma. Calon mantu yang datang membawa barang antaran ke rumah calon mertua, mendapat nilai lebih. Ia dapat pujian sebagai calon menantu yang baik dan bikin senang hati mertua.
Sebaliknya, calon mantu yang tidak bawa anteran apalagi tidak nongol jelang Ramadhan, urusannya bisa runyam. Calon mantu semacam ini tidak ada ia punya rasa hormat pada mertua. Bisa-bisa lamarannya bakal ditolak. Karena itu, sekalipun kantong kempes atau lagi bokek, ngantar pada mertua kudu dilakukan. (dari berbagai sumber)
Kebiasaan Masyarakat Betawi Jelang Puasa
Reviewed by chaplin-putra
on
1:26 PM
Rating: