Membaca Peluang Calon Pemimpin DKI dari Militer?

Pemilihan Umum Kepala Daerah DKI Jakarta 2012 akan dilaksanakan Juli mendatang, tepatnya 11 Juli 2012.

Namun, aromanya mulai kental terasa saat ini di mana saja. Baik itu di jalan-jalan (melalui penyebaran pamflet, spanduk dan sejenisnya), berita di media massa maupun iklan dari tim sukses masing-masing calon.

Sejumlah tokoh diusung, mulai dari Partai Politik maupun Independen (perorangan) untuk siap bertarung. Dari sipil maupun kalangan militer/TNI.

Namun, bila ditelisik ke belakang... sejak jaman Kompeni atau berdirinya Kota Jakarta sampai sekarang ini, tokoh militer sepertinya masih menjadi pilihan warga DKI dalam mengurus kota yang memiliki sejuta masalah mulai dari banjir, kemacetan, pungli, premanisme hingga aksi kejahatan dan kekerasan antargolongan/agama.

Tengok saja, dari tiga periode terakhir, kalau tidak gubernur, wakilnya pasti berasal dari kalangan atau tokoh militer.

Sutiyoso saat menjabat gubernur DKI dua periode (1997-2007) dan sempat didampingi Fauzi Bowo adalah mantan petinggi di Angkatan Darat (terakhir berpangkat Letjen TNI Purnawirawan). Sedangkan Foke (panggilan akrab Fauzi Bowo), yang menjabat Gubernur DKI untuk periode 2007-2012 dipasangkan dengan Prijanto yang juga petinggi dari AD, Mayjend TNI (Purnawirawan). Sutiyoso sendiri menggantikan Soerjadi Soedirdja, Jenderal Bintang Empat TNI, yang menjabat Gubernur DKI Jakarta periode 1992-1997.

Selain itu, tokoh TNI juga terbukti berhasil menarik simpati dibandingkan tokoh Polri. Masih ingat kan, ketika Foke-Prijanto yang hanya bersaing dengan Adang Daradjatun (mantan Wakil Kepala Polri dengan pangkat Komisaris Jenderal)-Dani Anwar pada Pilkada DKI Jakarta untuk gubenur dan wakil gubernur yang menjabat hingga periode saat ini.

Bahkan, tidak hanya dari Angkatan Darat, mantan gubernur yang sempat terkenal vokal dengan pemerintahan Orde Baru, Bang Ali Sadikin adalah seorang Letnan Jenderal KKO-AL (Korps Komando Angkatan Laut) yang ditunjuk oleh Presiden Soekarno menjadi Gubernur Jakarta pada tahun 1966, menjabat hingga 1977. Penggantinya pun, masih dari kalangan militer, yakni Letjen Tjokropranolo yang menjabat gubernur DKI untuk periode 1977-1982.

Nah, di Pilkada DKI untuk periode 2012-2017 ada tiga calon yang berasal dari kalangan militer. Mereka yakni Mayjend TNI (Purn) Nachrowi Ramli, calon wakil gubernur yang berpasangan dengan Foke, Hendradji Soepandji (calon gubernur independen yang bersanding dengan Ahmad Riza Patria), dan Mayjend TNI Marinir (Purn) Nono Sampono yang merupakan wakil dari calon gubernur Alex Noerdin.

Sementara, calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta lainnya bukan dari kalangan militer. Mereka adalah Joko Widodo (Walikota Solo)-Basuki Tjahaja, Hidayat Nur Wahid (mantan Ketua MPR/DPR)-Didik J Rachbini, dan Faisal Basri (ekonom)-Biem Triami Benjamin.

 Nah, apakah warga Jakarta masih tetap mempercayakan dirinya pada tokoh dari kalangan militer/TNI untuk mengurus kotanya? Semua kembali kepada diri dan pilihan masing-masing. Selamat berdemokrasi kampung kelahiranku, Jakarta. Tetap jaga kerukunan, meski berbeda pilihan. Bagaimana komentar Anda?
Membaca Peluang Calon Pemimpin DKI dari Militer? Membaca Peluang Calon Pemimpin DKI dari Militer? Reviewed by chaplin-putra on 10:13 AM Rating: 5
Diberdayakan oleh Blogger.