Pada cerita sebelumnya, diketahui ya namanya masih anak-anak, setelah lulus dari SD, Sule tidak lagi meneruskan latihannya NINJUTSU dan memilih aktif di organisasi lain di sekolah menengah pertama negeri di daerah Percetakan Negara, Jakarta.
Ia pun asyiik dengan kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler yang ditawarkan sekolahan tersebut. Sebab, Sule bisa mendapatkan pendidikan bagaimana ia mesti bisa hidup mandiri di tengah hutan dengan berbekal seadanya. (Di lain kisah, akan diceritakan)
Namun, meski sudah terkesan tak terlalu peduli lagi dengan dunia bela diri, Sule masih hobi bermain perang-perangan atau bertempur satu lawan satu. Nah... di sini lah cobaan pertama bagi Pendekar Kera tersebut terjadi. Karena, ketika ia sedang asyiik bermain usai salat tarawih (saat itu sedang bulan puasa)... tiba-tiba ia diserang dua orang anak teman bermainnya.
Sule pikir, serangan itu hanya bercanda atau berniat bermain perang-perangan, ternyata serangan itu benar adanya. Pukulan demi pukulan disarangkan ke wajah dan tubuhnya... untungnya latihan silat dan karate yang pernah dipelajarinya masih tersirat di otaknya. Tentunya dengan mudah Pendekar Kera itu menghindari serangan tiba-tiba tersebut.
Di sini, Sule hanya bisa menghindar dan menghalau pukulan-pukulan yang dialamatkan kepadanya. Sebab, ia tak ingin membalas serangan yang dilancarkan ke dua temannya tersebut karena dirinya tak tahu apa yang menyebabkan kedua anak itu menyerangnya dengan beringas.
Eh... setelah direlai oleh orang-orang dewasa yang kebetulan melintas dan melihat perkelahian tersebut, ternyata penyebab terjadinya pukulan dari kedua temannya itu terpicu adanya rasa cemburu.
Memang, meski Sule berperawakan seperti kera, ia memiliki wajah nan tampan sehingga membuatnya disukai banyak gadis-gadis di kampungnya, yang tentunya sebaya dengannya. Sebut saja, Heni yang kebetulan adalah putri dari sahabat ayahnya.
Heni memang, selain berparas jelita, ia sedikit genit bila melihat anak lelaki sebayanya yang berwajah tampan. Ya itu mungkin... yang disebut cinta monyet. Namanya juga anak-anak.
Lucunya... kedua teman yang mengeroyok Sule tadi, padahal diketahui tidak memiliki hubungan (pacaran) dengan Heni. Mereka hanya cemburu dengan tingkah laku Heni dan Sule yang sering ngobrol bareng, tanpa memperdulikan keduanya. ******* (bersambung)
Ia pun asyiik dengan kegiatan-kegiatan ekstrakulikuler yang ditawarkan sekolahan tersebut. Sebab, Sule bisa mendapatkan pendidikan bagaimana ia mesti bisa hidup mandiri di tengah hutan dengan berbekal seadanya. (Di lain kisah, akan diceritakan)
Namun, meski sudah terkesan tak terlalu peduli lagi dengan dunia bela diri, Sule masih hobi bermain perang-perangan atau bertempur satu lawan satu. Nah... di sini lah cobaan pertama bagi Pendekar Kera tersebut terjadi. Karena, ketika ia sedang asyiik bermain usai salat tarawih (saat itu sedang bulan puasa)... tiba-tiba ia diserang dua orang anak teman bermainnya.
Sule pikir, serangan itu hanya bercanda atau berniat bermain perang-perangan, ternyata serangan itu benar adanya. Pukulan demi pukulan disarangkan ke wajah dan tubuhnya... untungnya latihan silat dan karate yang pernah dipelajarinya masih tersirat di otaknya. Tentunya dengan mudah Pendekar Kera itu menghindari serangan tiba-tiba tersebut.
Di sini, Sule hanya bisa menghindar dan menghalau pukulan-pukulan yang dialamatkan kepadanya. Sebab, ia tak ingin membalas serangan yang dilancarkan ke dua temannya tersebut karena dirinya tak tahu apa yang menyebabkan kedua anak itu menyerangnya dengan beringas.
Eh... setelah direlai oleh orang-orang dewasa yang kebetulan melintas dan melihat perkelahian tersebut, ternyata penyebab terjadinya pukulan dari kedua temannya itu terpicu adanya rasa cemburu.
Memang, meski Sule berperawakan seperti kera, ia memiliki wajah nan tampan sehingga membuatnya disukai banyak gadis-gadis di kampungnya, yang tentunya sebaya dengannya. Sebut saja, Heni yang kebetulan adalah putri dari sahabat ayahnya.
Heni memang, selain berparas jelita, ia sedikit genit bila melihat anak lelaki sebayanya yang berwajah tampan. Ya itu mungkin... yang disebut cinta monyet. Namanya juga anak-anak.
Lucunya... kedua teman yang mengeroyok Sule tadi, padahal diketahui tidak memiliki hubungan (pacaran) dengan Heni. Mereka hanya cemburu dengan tingkah laku Heni dan Sule yang sering ngobrol bareng, tanpa memperdulikan keduanya. ******* (bersambung)
Cobaan Pertama Pendekar Kera
Reviewed by chaplin-putra
on
11:27 AM
Rating: